• (031) 5997244

06 Feb

Kasus Bhopal 1984 merupakan sejarah kelam bagi lingkungan. Ribuan orang menjadi korban kebocoran gas dari sebuah industri di kota tersebut. Industri ibarat mata pisau yang berguna pada satu sisi dan berbahaya pada sisi lainya. Dampak negatif dari beroperasinya sebuah industri tidak bisa dihilangkan 100%, tetapi dapat dikurangi dengan memprediksi segala kemungkinan terburuk dari kegiatan industri. Demikian dipaparkan Sandi Handrianto, mahasiswa Magister Teknik Lingkungan (MTL), dalam presentasinya di hadapan Tim Penguji Sidang Tesis. Penelitian mahasiswa yang sehari-hari bekerja pada sebuah perusahaan LPG ini, berawal dari ide terjadinya kasus Bhopal. Dengan mengambil judul, Analisis Sebaran Kebocoran Gas Pada Kilang LPG Melalui Simulasi Dengan Menggunakan Program Aloha, tesisnya diberikan nilai A oleh tim penguji yang diketuai Prof. Dr. Ir. Nieke Karnaningroem Dipl.SE, M.Sc.

Bapak Sandi Handrianto (sebelah kanan) bersama seorang rekan saat pelaksanaan sidang tesis

Dijelaskannya, salah satu bahaya terbesar dari pengoperasian kilang LPG adalah kebocoran gas yang sangat mudah terbakar, atau berpotensi menjadi kasus VCE (vapor cloud explosion), dan bisa berdampak pada keselamatan manusia serta kerusakan lingkungan. Penelitian ditujukan untuk mengetahui seberapa besar resiko kebocoran gas dan sebarannya pada kilang LPG. Sebagai langkah awal penelitian, mahasiswa yang dikenal tekun dan pekerja keras ini, melakukan analisis bahaya dan resiko menggunakan SLRA (Screening Level Risk Analysis). Sebuah analisis untuk mengidentifikasi resiko tertinggi yang mungkin terjadi pada kilang LPG. Hasil analisis mendapatkan bahwa, resiko tertinggi kebocoran gas terdapat pada manhole 24” LPG storage tank V500/501. LPG storage tank V500/501 merupakan tangki bertekanan yang berfungsi menyimpan produk LPG dengan kapasitas 1000 MT, sehingga jika terjadi kebocoran, akan berpotensi menebarkan gas berbahaya cukup banyak ke lingkungan.

 

Dalam penelitiannya, digunakan software milik EPA, yaitu Aloha, yang menghasilkan tiga simulasi berbeda. Sebagai hasilnya, didapatkan gambaran sebaran terjauh pada skenario atmosfer terendah, dimana sebaran gas mencapai 10%LEL hingga radius 862 m, dan masuk ke wilayah permukiman terdekat. Potensi menjadi kasus VCE pada wilayah permukiman dikatakan kecil karena konsentrasi gas rendah. Namun demikian, potensi pencemaran lingkungan yang berakibat pada gangguan kesehatan masyarakat dapat terjadi. Hal ini dikarenakan konsentrasi gas di wilayah permukiman lebih dari NAB, yaitu sebesar 3090 ppm.

 

Penelitian mahasiswa yang akan diwisuda pada akhir April 2018 ini menyimpulkan, pengoperasian kilang LPG yang dekat dengan permukiman, berpotensi menyebabkan gangguan lingkungan, karena kasus kebocaran gas. Upaya rekasaya teknik mutlak diperlukan untuk meminimalkan resiko negatif pada lingkungan sekitar kilang LPG. Di akhir paparannya, mahasiswa berprestasi ini pun mengajak masyarakat untuk meningkatkan kompetensi diri dengan segera bergabung studi di Magister Teknik Lingkungan. Ajakan ini bertepatan dengan jadwal kuliah perdana semester baru MTL yang akan berlangsung pada akhir Pebruari 2018. Selamat kepada Bapak Sandi Handrianto, semoga semakin banyak praktisi dan pemerhati lingkungan yang dapat mengikuti jejak kesuksesannya dengan bergabung studi di Magister Teknik Lingkungan (red. SANDI).

sebuah kesuksesan yang patut ditiru