• (031) 5997244

01 Dec

Pengelolaan sampah organik di Indonesia menjadi topik menarik di kalangan praktisi sampai akademisi. Hal ini dikarenakan Indonesia mencanangkan “Bebas Sampah 2020” namun belum disertai panduan langkah kongkret untuk mengelola sampah dengan efektif.

Jumlah sampah organik yang masuk TPA sangat tinggi. Salah satu penyebabnya adalah pengolahan yang kurang menguntungkan. Jika hal ini terus dibiarkan, maka pencemaran, khususnya airtanah, menjadi masalah yang harus dihadapi. Terlebih lagi jika TPA yang digunakan memakai sistem open dumping.

Berbagai pemecahan masalah sampah organik perlu dikembangkan dan dipublikasikan dengan baik, agar pemerintah, khususnya masyarakat, memiliki ketertarikan untuk mengolah sampah organik. Salah satu program bernama FORWARD (from organik waste to recycle for development) menemukan metode pengolahan sampah organik menggunakan larva lalat Black Soldier Fly (BSF), dengan spesies Hermetia illucens. Sampah yang dikelola dengan metode ini memiliki kandungan gizi tinggi, sehingga nutrisinya dapat diserap larva lalat. Produk larva lalat yang dihasilkan pun menjadi sumber protein bagi hewan lain, seperti burung atau ikan.

Namun, hal terpenting dari permasalahan sampah adalah bagaimana kita bisa meminimasi produk sampah sebelum melakukan pengolahan. Hal ini sangat penting mengingat dalam melakukan pengolahan membutuhkan material, sumber daya, dan waktu yang tidak sedikit. Maka dari itu setiap orang wajib bertanggungjawab dengan sampah yang dihasilkannya.

ditulis oleh Achmad Chusnun Ni’am, S.Si, MT

Sharing ilmu dari kegiatan Learning Event & Workshop

“Organic Waste Management”