



















































































































































































































































{"id":941,"date":"2012-10-16T07:27:26","date_gmt":"2012-10-16T07:27:26","guid":{"rendered":"http:\/\/puskomsi.itats.ac.id\/?p=941"},"modified":"2012-10-16T07:27:26","modified_gmt":"2012-10-16T07:27:26","slug":"mahasiswi-surabaya-rancang-tas-bisa-nge-charge","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/itats.ac.id\/dsi\/mahasiswi-surabaya-rancang-tas-bisa-nge-charge\/","title":{"rendered":"Mahasiswi Surabaya Rancang Tas Bisa &#8220;Nge-Charge&#8221;"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<div>\n<div id=\"foto1\"><img decoding=\"async\" src=\"http:\/\/assets.kompas.com\/data\/photo\/2011\/01\/19\/2012359620X310.jpg\" alt=\"\" width=\"610\" \/><\/div>\n<\/div>\n<div><\/div>\n<div id=\"multi_foto_wide\"><\/div>\n<div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>KOMPAS.com<\/strong>\u00a0&#8211; Tiga mahasiswi Surabaya berhasil menciptakan &#8220;backpack&#8221; (tas punggung) yang bisa menghasilkan energi listrik.<\/p>\n<p>Ketiganya merupakan mahasiswi jurusan Desain Manajemen Produk (Fakultas Industri Kreatif) dan Jurusan Teknik Industri (Fakultas Teknik) Universitas Surabaya.<\/p>\n<p>&#8220;Pemakainya bisa menggunakan tas itu untuk mengisi ulang baterai alat-alat elektronik, seperti laptop, IPad, ponsel, atau lainnya,&#8221; kata mahasiswi Jurusan Teknik Industri angkatan 2010, Evita Tania.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><!--more--><\/p>\n<p>Didampingi dua rekannya Stella Felicia (Desain Manajemen Produk 2010) dan Cindy Eleanora (Desain Manajemen Produk 2011), ia mengemukakan hal itu tentang karya mereka yang memenangkan gelar &#8220;Best of the Best&#8221; pada Lomba Perancangan Tas Nasional 2012 di Bandung pada awal Oktober 2012.<\/p>\n<p>&#8220;Listrik itu dihasilkan dari energi kinetik (gerakan tubuh pemakainya), karena itu tas listrik itu bisa saja disebut sebagai\u00a0<em>green energy<\/em>\u00a0(energi hijau), karena ramah lingkungan. Sebagai prototipe, backpack ini diberi nama &#8220;Kinetic Ver 1.0&#8243; (Green Kinetic Energy Providing Electricity Backpack),&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Menurut Evita, banyak pengguna &#8220;backpack (khususnya mahasiswa) yang membawa laptop, ponsel,\u00a0<em>charger<\/em>, dan\u00a0<em>gadget<\/em>\u00a0lainnya dan masalah yang sering dihadapi adalah kebutuhan listrik untuk &#8220;men-<em>charge<\/em>&#8221; baterai gadget mereka.<\/p>\n<p>&#8220;Sumber listrik tidak selalu berada di dekat mereka saat dibutuhkan. Masalah sering muncul ketika ponsel, laptop atau gadget mereka\u00a0<em>low batt<\/em>\u00a0(kehabisan baterai) dan mereka harus mencari sumber listrik,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Mengisi baterai mengharuskan mereka diam, menunggu, atau meninggalkan gadget di satu tempat untuk beberapa waktu (jam), sehingga mereka akhirnya mencari cara agar pengguna &#8220;backpack&#8221; mudah\u00a0<em>men-charg<\/em>e gadget mereka.<\/p>\n<p>&#8220;Dari pengamatan, saat berjalan, naik kendaraan (misalnya sepeda motor), dan melakukan aktivitas lainnya, pengguna backpack pasti mengeluarkan energi kinetik. Energi itu terbuang sia-sia,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Dari sini muncul ide membuat &#8220;backpack&#8221; yang dapat menyimpan energi listrik untuk &#8220;men-charge&#8221; gadget (ponsel, laptop, dan lainnya) dari energi kinetik dari pergerakan fisik pengguna backpack.<\/p>\n<p>&#8220;Energi buangan tersebut sangat berpotensi diolah kembali untuk memenuhi kebutuhan energi konsumen. Sifat energi yang kekal, namun hanya dapat diubah menjadi bentuk energi lain dapat dimanfaatkan,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Mereka menggunakan alat yang dapat mengubah energi kinetik menjadi energi listrik, yaitu &#8220;piezoelektrik&#8221;. Alat ini menghasilkan listrik bila mendapat tekanan atau getaran.<\/p>\n<p>&#8220;Alat ini disambungkan ke penyimpan energi listrik yang dapat digunakan men-charge gadget. Saat pengguna backpack memasukkan maupun mengeluarkan barang, saat berjalan, atau gerakan lainnya, alat tersebut akan menyerap energi kinetik dan mengonversinya menjadi energi listrik,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Ditanya alasan menciptakan inovasi itu, ia mengatakan akhir-akhir ini pembicaraan tentang &#8220;green product&#8221; makin marak, sehingga membuat produsen berlomba-lomba menghadirkan produk ramah lingkungan.<\/p>\n<p>&#8220;Semakin hari, produsen semakin dituntut menggunakan material yang mencakup 3R (<em>reduce, reuse, recycle<\/em>). Konsumsi energi dunia semakin meningkat, berbanding terbalik dengan persediaan energi yang semakin menipis,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Ironisnya, katanya, banyak energi yang secara tidak sadar terbuang begitu saja, seperti energi kinetik, energi potensial, energi bunyi, dan bentuk energi lainnya. &#8220;Itu sebabnya kami menciptakan tas itu,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>sumber :\u00a0<a href=\"http:\/\/tekno.kompas.com\/read\/2012\/10\/11\/1511464\/Mahasiswi.Surabaya.Rancang.Tas.Bisa.Nge-Charge.\">http:\/\/tekno.kompas.com\/read\/2012\/10\/11\/1511464\/Mahasiswi.Surabaya.Rancang.Tas.Bisa.Nge-Charge.<\/a><\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; &nbsp; KOMPAS.com\u00a0&#8211; Tiga mahasiswi Surabaya berhasil menciptakan &#8220;backpack&#8221; (tas punggung) yang bisa menghasilkan energi listrik. Ketiganya merupakan mahasiswi jurusan Desain Manajemen Produk (Fakultas Industri Kreatif) dan Jurusan Teknik Industri (Fakultas Teknik) Universitas Surabaya. &#8220;Pemakainya bisa menggunakan tas itu untuk mengisi ulang baterai alat-alat elektronik, seperti laptop, IPad, ponsel, atau lainnya,&#8221; kata mahasiswi Jurusan Teknik&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-941","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/itats.ac.id\/dsi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/941","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/itats.ac.id\/dsi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/itats.ac.id\/dsi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/itats.ac.id\/dsi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/itats.ac.id\/dsi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=941"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/itats.ac.id\/dsi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/941\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/itats.ac.id\/dsi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=941"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/itats.ac.id\/dsi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=941"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/itats.ac.id\/dsi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=941"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}