









































































































































































































































{"id":1110,"date":"2018-05-18T12:38:26","date_gmt":"2018-05-18T05:38:26","guid":{"rendered":"http:\/\/lingkungan.itats.ac.id\/?p=1110"},"modified":"2018-05-18T12:38:26","modified_gmt":"2018-05-18T05:38:26","slug":"pemanfaatan-sampah-organik-pasar-sebagai-kompos-dengan-aktivator-mol-nasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/pemanfaatan-sampah-organik-pasar-sebagai-kompos-dengan-aktivator-mol-nasi\/","title":{"rendered":"Pemanfaatan Sampah Organik Pasar Sebagai Kompos dengan Aktivator Mol Nasi"},"content":{"rendered":"<p>Pemanfaatan Sampah Organik Pasar Sebagai Kompos dengan Aktivator Mol Nasi adalah penelitian mahasiswa Teknik Lingkungan Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya(ITATS) &#8211; Mentari Eka Wardhani yang telah diwisuda pada 28 April 2018.<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/lingkungan.itats.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/sampah-organik-pasar.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"size-thumbnail wp-image-1115 alignleft\" src=\"http:\/\/lingkungan.itats.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/sampah-organik-pasar-150x150.jpg\" alt=\"\" width=\"150\" height=\"150\" srcset=\"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2018\/05\/sampah-organik-pasar-150x150.jpg 150w, https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2018\/05\/sampah-organik-pasar-300x300.jpg 300w, https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2018\/05\/sampah-organik-pasar-1024x1021.jpg 1024w, https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2018\/05\/sampah-organik-pasar-768x766.jpg 768w, https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2018\/05\/sampah-organik-pasar.jpg 1224w\" sizes=\"(max-width: 150px) 100vw, 150px\" \/><\/a>adalah zat akhir suatu proses fermentasi tumpukan sampah\/serasah tanaman dan adakalanya pula termasuk bangkai binatang.Bahan-bahan mentah yang biasa digunakan seperti ; merang, daun, sampah dapur, sampah kota, dan sampah pasar sayur dan buah seperti pada Pasar Induk Osowilangun Surabaya.<\/p>\n<p>Di alam terbuka, kompos bisa terjadi dengan sendirinya lewat proses alamiah. Namun proses tersebut berlangsung lama sekali padahal kebutuhan akan tanah yang subur sudah mendesak.<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/lingkungan.itats.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/mentari-2.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"size-thumbnail wp-image-1113 alignleft\" src=\"http:\/\/lingkungan.itats.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/mentari-2-150x150.jpg\" alt=\"\" width=\"150\" height=\"150\" \/><\/a>Oleh karenanya, proses tersebut perlu dipercepat dengan bantuan manusia sehingga sangat diperlukan bahan aktivator yang mampu mempercepat proses pengomposan.\u00a0Aktivator adalah bahan yang terdiri dari enzim, asam humat bahan, dan mikroorganisme seperti kultur bakteri. Aktivator adalah segala bentuk substansi yang secara mikrobiologis akan mempercepat proses pembusukan di dalam tumpukan kompos.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/lingkungan.itats.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/mol-nasi.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"size-thumbnail wp-image-1116 alignleft\" src=\"http:\/\/lingkungan.itats.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/mol-nasi-150x150.jpg\" alt=\"\" width=\"150\" height=\"150\" \/><\/a>Bahan aktivator yang dapat digunakan adalah mol nasi basi dan kompos jadi. Mikroorganisme lokal (MOL) adalah mikroorganisme yang dimanfaatkan sebagai aktivator dalam pembuatan pupuk organik padat maupun pupuk cair. Mikroorganisme yang terdapat dalam mol nasi berupa <em>Sacharomycescerevicia <\/em>dan <em>Aspergiillus <\/em>sp. yang dapat membantu pembusukan pada proses pengomposan dengan cepat.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kompos mempunyai beberapa sifat yang menguntungkan antara lain : <a href=\"http:\/\/lingkungan.itats.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/mentari-1.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-thumbnail wp-image-1114 alignleft\" src=\"http:\/\/lingkungan.itats.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/mentari-1-150x150.jpg\" alt=\"\" width=\"150\" height=\"150\" \/><\/a>memperbaiki struktur tanah berlempung sehingga menjadi ringan, memperbesar daya ikat tanah berpasir sehingga tanah tidak berderai, menambah daya ikat air pada tanah, memperbaiki drainase dan tata udara dalam tanah, mempertinggi daya ikat tanah terhadap zat hara, mengandung hara yang lengkap walaupun jumlahnya sedikit, membantu proses pelapukan bahan mineral, dan memberi ketersediaan bahan makanan bagi mikrobia.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/lingkungan.itats.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/mentari-3.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-thumbnail wp-image-1112 alignnone\" src=\"http:\/\/lingkungan.itats.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/mentari-3-150x150.jpg\" alt=\"\" width=\"150\" height=\"150\" \/><\/a>Dengan adanya pembuatan kompos maka dapat menjadikan sampah lebih bernilai ekonomis serta dapat mengatasi masalah sampah yang ada di lingkungan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pemanfaatan Sampah Organik Pasar Sebagai Kompos dengan Aktivator Mol Nasi adalah penelitian mahasiswa Teknik Lingkungan Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya(ITATS) &#8211; Mentari Eka Wardhani yang telah diwisuda pada 28 April 2018. adalah zat akhir suatu proses fermentasi tumpukan sampah\/serasah tanaman dan adakalanya pula termasuk bangkai binatang.Bahan-bahan mentah yang biasa digunakan seperti ; merang, daun, sampah&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":1111,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[268,269,270,271],"class_list":["post-1110","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","tag-kompos","tag-mol","tag-pasar","tag-sampah-organik"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1110","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1110"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1110\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1111"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1110"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1110"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1110"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}