









































































































































































































































{"id":1499,"date":"2018-09-12T16:10:51","date_gmt":"2018-09-12T09:10:51","guid":{"rendered":"http:\/\/lingkungan.itats.ac.id\/?p=1499"},"modified":"2018-09-12T16:10:51","modified_gmt":"2018-09-12T09:10:51","slug":"air-limbah-domestik-dan-sampah-membuat-air-kali-berwarna-hitam-atau-item","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/air-limbah-domestik-dan-sampah-membuat-air-kali-berwarna-hitam-atau-item\/","title":{"rendered":"Air Limbah Domestik dan Sampah membuat Air Kali berwarna hitam atau item"},"content":{"rendered":"<p>Pada kondisi normal, air berwarna jernih atau tidak berwarna. Namun adanya bahan-bahan terlarut dan tersuspensi dalam air, membuat air menjadi berwarna. Air berwarna kecoklatan ketika mengandung banyak lumpur yang terbawa aliran air hujan, air berwarna kehijauan ketika air mengandung banyak alga atau ganggang. Nah, kali ini kita bahas tentang air yang berwarna item atau hitam.<\/p>\n<p>Kali Sentiong atau yang biasa disebut Kali Item akhir-akhir ini menjadi sorotan. Pada awal agustus 2018 Pemprov DKI\u00a0Jakarta menutup kali dengan <strong>waring<\/strong> sepanjang 600 meter lebih dengan tujuan untuk mengurangi bau dan menutupi warna hitam. Pada mulanya kali hitam dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sebagai sumber air, namum sejak tahun 80-an kali hitam sudah banyak dipenuhi sampah. Tidak ada kesadaran dari warga sekitar untuk menghentikan kebiasaan buruk tersebut, ditambah lagi kebiasaan warga dalam melakukan aktifitas sehari-hari di lingkungan kali menyebabkan pencemaran air semakin meningkat.<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/lingkungan.itats.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/pembersihan-kali-item.jpg\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-1502\" src=\"http:\/\/lingkungan.itats.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/pembersihan-kali-item-300x169.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"169\" srcset=\"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2018\/09\/pembersihan-kali-item-300x169.jpg 300w, https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2018\/09\/pembersihan-kali-item.jpg 720w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><\/p>\n<p>Warna Kali Sentiong yang menghitam disebabkan pembusukan bahan organik oleh bakteri. Banyaknya bahan organik di dalam air membutuhkan suplai oksigen yang tinggi. Apabila kebutuhan oksigen tidak mencukupi maka proses pembusukan terjadi secara anaerobik. Proses anaerobik tersebut menghasilkan gas-gas seperti <strong>hydrogen sulfida (H<sub>2<\/sub>S), ammonia (NH<sub>3<\/sub>),<\/strong> dan lainnya. Kualitas bau dari gas tersebut seperti bau ammonia dan telur busuk. Timbulnya bau dan warna yang menghitam menyebabkan ketidaknyamanan berada di sekitar kali tersebut.<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/lingkungan.itats.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/sungai-polutan-1.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-1505 size-medium\" src=\"http:\/\/lingkungan.itats.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/sungai-polutan-1-300x132.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"132\" srcset=\"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2018\/09\/sungai-polutan-1-300x132.jpg 300w, https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2018\/09\/sungai-polutan-1-768x339.jpg 768w, https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2018\/09\/sungai-polutan-1.jpg 1024w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/lingkungan.itats.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/waterpollution.gif\"><img decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-1507\" src=\"http:\/\/lingkungan.itats.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/waterpollution-300x169.gif\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"169\" \/><\/a><\/p>\n<p><strong>Purifikasi sungai sebagai badan air secara alami<\/strong><\/p>\n<p>Gas \u2013gas yang terbentuk akan tertangkap oleh jaring, meskipun begitu tetap terdapat gas yang lolos pada celah jaring. Hal tersebut akan mengurangi jumlah bau yang timbul. Dalam penanganan pencemaran air pada Kali Item penutupan dengan <strong>waring (jarring<\/strong> <strong>hitam)<\/strong> tidak bisa digunakan terus menerus. Pembersihan kali dari sampah dan pengurangan sumber pencemar air perlu dilakukan agar Kali Sentiong kembali normal. Selain itu perlu adanya pembersihan lumpur hasil dekomposisi bakteri pada dasar kali. Pengurangan lumpur akan menambah daya tampung kali sehingga meminimalisir banjir pada musim penghujan.<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/lingkungan.itats.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/waring-kali-item.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-1501\" src=\"http:\/\/lingkungan.itats.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/waring-kali-item-300x169.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"169\" srcset=\"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2018\/09\/waring-kali-item-300x169.jpg 300w, https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2018\/09\/waring-kali-item-768x432.jpg 768w, https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2018\/09\/waring-kali-item.jpg 800w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><\/p>\n<p>Air limbah domestik dari masyarakat sekitar menjadi sasaran utama penyebab timbulnya bau dan warna yang gelap pada kali. Ketersediaan instalasi pengolahan air limbah sebelum air limbah domestik masuk ke badan air juga perlu diperhatikan oleh pemerintah setempat. Ketegasan Pemprov DKI Jakarta untuk memperhatikan sumber pencemar yang masuk ke dalam kali perlu ditingkatkan. (Ro\u2019du Dhuha)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><u>Sumber<\/u> <u>foto:<\/u><\/p>\n<p>Fachrul Irwansyah. Kumparan. https:\/\/alibaba.kumpar.com\/kumpar\/image\/upload\/c_fill,g_face,f_jpg,q_auto,fl_progressive,fl_lossy,w_800\/enroultanlf26ewxxmrk.jpg<\/p>\n<p>https:\/\/statik.tempo.co\/data\/2018\/07\/28\/id_722122\/722122_720.jpg<\/p>\n<p>https:\/\/www.blinklearning.com\/coursePlayer\/clases2.php?idclase=29776099&#038;idcurso=626749<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"nzcC3jXBIE\"><p><a href=\"https:\/\/tmacauley.wordpress.com\/2013\/05\/14\/week-14-water-pollution-solid-hazardous-waste\/\">WEEK 14: WATER POLLUTION, SOLID &amp; HAZARDOUS&nbsp;WASTE<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;WEEK 14: WATER POLLUTION, SOLID &amp; HAZARDOUS&nbsp;WASTE&#8221; &#8212; Urban, Suburban, and Universal Susutainibility\" src=\"https:\/\/tmacauley.wordpress.com\/2013\/05\/14\/week-14-water-pollution-solid-hazardous-waste\/embed\/#?secret=Ccutx5Jb2t#?secret=nzcC3jXBIE\" data-secret=\"nzcC3jXBIE\" width=\"600\" height=\"338\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada kondisi normal, air berwarna jernih atau tidak berwarna. Namun adanya bahan-bahan terlarut dan tersuspensi dalam air, membuat air menjadi berwarna. Air berwarna kecoklatan ketika mengandung banyak lumpur yang terbawa aliran air hujan, air berwarna kehijauan ketika air mengandung banyak alga atau ganggang. Nah, kali ini kita bahas tentang air yang berwarna item atau hitam&#8230;.<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":1501,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"footnotes":""},"categories":[203],"tags":[368,369,370,76,371],"class_list":["post-1499","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-tahukah-kamu","tag-kali-item","tag-kali-sentiong","tag-limbah-doemstik","tag-sampah","tag-waring"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1499","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1499"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1499\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1501"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1499"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1499"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1499"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}