









































































































































































































































{"id":381,"date":"2017-03-13T09:34:10","date_gmt":"2017-03-13T02:34:10","guid":{"rendered":"http:\/\/lingkungan.itats.ac.id\/?p=381"},"modified":"2017-03-13T09:34:10","modified_gmt":"2017-03-13T02:34:10","slug":"belajar-sampah-dari-negeri-seberang-baca-taiwan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/belajar-sampah-dari-negeri-seberang-baca-taiwan\/","title":{"rendered":"Belajar mengelola sampah dari negeri seberang (baca Taiwan)"},"content":{"rendered":"<p>Apakah kalian mengenai Taiwan?<\/p>\n<p>Iya, negara dengan luas 36,193\u00a0km\u00b2 ini memiliki pengelolaan sampah dan kualitas lingkungan yang berbeda jauh dengan negara Indonesia.<\/p>\n<p>Saya akan bercerita sedikit mengenai sampah di Taiwan. Taiwan yang luasnya lebih kecil dari pulau Jawa (128,297\u00a0km\u00b2) ini sangat memperhatikan pengelolaan sampah. Di Taiwan sangat sulit dijumpai tempat sampah, namun hal ini bukan menjadi masalah bagi warga negara untuk membuang sampah pada tempat sampah.<\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<p>Berbeda dengan Indonesia, meskipun telah tersedia banyak tempat sampah, namun seringkali kita jumpai banyak sekali masyarakat yang enggan untuk membuang sampah pada tempatnya. Suatu kelegaan bagi saya sendiri untuk menemukan tempat sampah, karena saya harus menahan diri untuk membuang sampah hasil dari aktifitas saya sehari-hari. Berikut saya lampirkan betapa bersihnya kondisi lingkungan yang ada disekitar saya menempuh studi. Pelajaran yang bisa diambil dari sini adalah \u201ckesadaran lingkungan\u201d, meskipun minim akan fasilitas tempat sampah, namun bukan menjadi halangan bagi masyarakat taiwan untuk membuang sampah di tempat sampah.<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/lingkungan.itats.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/sampah-di-taiwan1.jpg\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-382 size-medium\" src=\"http:\/\/lingkungan.itats.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/sampah-di-taiwan1-300x223.jpg\" alt=\"sampah di taiwan1\" width=\"300\" height=\"223\" srcset=\"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2017\/03\/sampah-di-taiwan1-300x223.jpg 300w, https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2017\/03\/sampah-di-taiwan1-1024x760.jpg 1024w, https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2017\/03\/sampah-di-taiwan1-768x570.jpg 768w, https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2017\/03\/sampah-di-taiwan1.jpg 1041w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><\/p>\n<p>Pengelolaan sampah di Taiwan sangat memperhatikan pengelompokkan jenis sampah. Di setiap kampus disediakan fasilitas tempat sampah berdasarkan jenisnya. Selain itu, ketika di restoran atau warung makan kita wajib bertanggung jawab terhadap sampah yang kita hasilkan, dengan kata lain sampah dari aktifitas makan kita buang sendiri didepan restoran berdasarkan jenis sampah. Hal ini tentu sangat berbeda sekali dengan yang terjadi di Indonesia, dimana sampah yang kita hasilkan dari aktifitas kita makan menjadi tanggung jawab pekerja restoran. Pelajaran yang bisa diambil dari sini adalah \u201csetiap orang wajib bertanggung jawab tehadap sampah yang dihasilkannya\u201d<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/lingkungan.itats.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/sampah-di-taiwan2.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-384 size-medium\" src=\"http:\/\/lingkungan.itats.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/sampah-di-taiwan2-300x252.jpg\" alt=\"sampah di taiwan2\" width=\"300\" height=\"252\" srcset=\"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2017\/03\/sampah-di-taiwan2-300x252.jpg 300w, https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2017\/03\/sampah-di-taiwan2-768x644.jpg 768w, https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2017\/03\/sampah-di-taiwan2.jpg 864w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><\/p>\n<p>Sesuatu yang unik dari pengelolaan sampah di Taiwan adalah truk sampah, dimulai dari jam 17.00 hingga malam hari truk sampah yang berwarna kuning akan keliling di beberapa lokasi di Taiwan dengan sirine seperti orang jual es krim, hal ini menjadi unik dikarenakan sirine yang dibunyikan mengundang orang untuk keluar membuang sampah yang dikumpulkan dalam sehari.<\/p>\n<p><em><strong>Artikel ditulis oleh Achmad Chusnun Ni&#8217;am, dosen Teknik Lingkungan ITATS yang sedang menempuh studi doktoral di Taiwan<\/strong><\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Apakah kalian mengenai Taiwan? Iya, negara dengan luas 36,193\u00a0km\u00b2 ini memiliki pengelolaan sampah dan kualitas lingkungan yang berbeda jauh dengan negara Indonesia. Saya akan bercerita sedikit mengenai sampah di Taiwan. Taiwan yang luasnya lebih kecil dari pulau Jawa (128,297\u00a0km\u00b2) ini sangat memperhatikan pengelolaan sampah. Di Taiwan sangat sulit dijumpai tempat sampah, namun hal ini bukan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":383,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[76,77],"class_list":["post-381","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","tag-sampah","tag-taiwan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/381","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=381"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/381\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/media\/383"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=381"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=381"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/itats.ac.id\/tekniklingkungan\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=381"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}