ITATS Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Cegah Abrasi, Tanam 150 Mangrove di Muara Wonorejo

Berita Terkait

Mahasiswa ITATS Borong Lima Piala di Kompetisi Nasional IndoCEISS 2026
Mahasiswa ITATS Tembus beVisioneers Mercedes-Benz Fellowship Internasional
Luar Biasa! ITATS Borong Dua Penghargaan Bergengsi di Anugerah Kampus Unggulan LLDIKTI Wilayah VII 2026
ITATS Perkuat Kolaborasi Akademik dan Industri Indonesia–Taiwan melalui Program Delegasi INTENSE 2026
Mahasiswa Sistem Informasi ITATS Tembus 10 Besar Project Management Challenge 2026

Insitut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS) dan konsorsium Rumah Mangrove Surabaya menanam 150 bibit mangrove di Ekowisata Mangrove Wonorejo kemarin(5/11). Aksi itu dihelat untuk melindungi lingkungan serta memperingati Hari Pahlawan.

Kaprodi Magister Teknik Lingkungan ITATS, Mohamad Ferdaus Noor Aulady menyampaikan, penanaman mangrove sesuai dengan tri darma perguruan tinggi. “Sembari riset juga pengabdian masyarakat. Ya termasuk kepada lingkungan,” katanya kemarin(5/11). Menurut Aulady, beberapa tahun lagi mangrove yang ditanam itu bakal memberikan manfaat. Tanaman tersebut mampu menjadi sistem penjaga kelestarian lingkungan. Salah satunya dapat mencegah abrasi dan erosi kawasan pesisir. “Tak terkecuali sebagai pengembangan ilmu pengetahuan,” lanjutnya.

Koordinator Konsorsium Rumah Mangrove Surabaya Wawan Some mengatakan, jenis mangrove yang ditanam adalah Rhizophora mucronata. Jenis tumbuhan bakau kurap itu cukup relevan ditanam di kawasan pesisir khususnya pantai timur Surabaya (pamurbaya). “Model akar tunjang, cukup bagus untuk kondisi pesisir yang berlumpur,” jelasnya. Rhizophora mucronata, lanjut Wawan, bisa tumbuh 10 kali lebih tingii dari tinggi pohon saat ditanam. Selain itu, tanaman bakau mampu mempercepat laju sedimentasi sehingga memicu tanah timbul. Luas daratan bertambah luas. Termasuk mampu mencegah abrasi dan intrusi air laut.

Berbagai penelitian menyebutkan bahwa mangrove mampu menyerap polutan seperti logam berat. “Mangrove juga bisa menjadi tanggul alami untuk mencegah banjir rob. Jenis ini memang harus diperbanyak, apalagi krisis iklim itu nyata,” paparnya. (Jawa Pos, Edisi 6 November 2022)