Mengenal Struktur Geologi Secara Langsung: Mahasiswa Teknik Pertambangan ITATS Laksanakan Fieldtrip Praktikum Geologi Struktur di Geopark Bojonegoro

Sebanyak 86 mahasiswa Semester 2 Program Studi Teknik Pertambangan Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS) mengikuti Kegiatan Fieldtrip Praktikum Geologi Struktur di kawasan Geopark Bojonegoro dan Wisata Negeri Atas Angin Bojonegero sebagai implementasi pembelajaran berbasis lapangan untuk memperkuat kompetensi observasi, identifikasi, serta analisis struktur geologi sebagai bekal menghadapi dunia pertambangan.

Surabaya – Hamparan singkapan batuan, struktur sesar, hingga lipatan yang terbentuk akibat proses tektonik selama jutaan tahun menjadi ruang belajar terbuka bagi 86 mahasiswa Semester 2 Program Studi Teknik Pertambangan Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS). Melalui Kegiatan Fieldtrip Praktikum Geologi Struktur yang diselenggarakan pada Sabtu, 6 Juni 2026, mahasiswa diajak mengamati secara langsung berbagai fenomena geologi di kawasan Geopark Bojonegoro dan Wisata Negeri Atas Angin sebagai bagian dari pembelajaran berbasis lapangan yang mengintegrasikan teori dengan praktik.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Program Studi Teknik Pertambangan ITATS bersama Asisten Praktikum Geologi Struktur ini bertujuan memberikan pengalaman belajar yang lebih aplikatif kepada mahasiswa. Tidak hanya memahami materi melalui perkuliahan dan praktikum di laboratorium, mahasiswa juga memperoleh kesempatan untuk mengamati secara langsung objek-objek geologi yang menjadi dasar dalam ilmu kebumian dan sangat erat kaitannya dengan dunia pertambangan.

Geopark Bojonegoro, Laboratorium Alam bagi Mahasiswa

Pemilihan kawasan Geopark Bojonegoro sebagai lokasi fieldtrip didasarkan pada keberagaman fenomena geologi yang dimiliki kawasan tersebut. Dalam satu rangkaian kegiatan, mahasiswa dapat menjumpai berbagai struktur geologi, mulai dari kekar, sesar, lipatan, hingga variasi jenis batuan yang tersingkap secara alami.

Kondisi tersebut menjadikan Geopark Bojonegoro sebagai laboratorium alam yang sangat ideal untuk mendukung proses pembelajaran Geologi Struktur. Mahasiswa tidak hanya mempelajari teori mengenai deformasi batuan di ruang kelas, tetapi juga dapat melihat secara langsung bagaimana struktur tersebut terbentuk serta memahami hubungan antara proses geologi dengan kondisi yang dijumpai di lapangan.

Selain memiliki nilai ilmiah yang tinggi, kawasan Geopark Bojonegoro juga menjadi salah satu bentuk pelestarian warisan geologi yang dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan, penelitian, dan pengembangan ilmu kebumian bagi generasi muda.

Mengawali Observasi Melalui Struktur Kekar

Stasiun pertama membawa mahasiswa menuju sebuah singkapan batuan di kawasan aliran sungai yang memperlihatkan perkembangan struktur kekar (joint) dengan sangat jelas. Pada lokasi ini mahasiswa mulai mempraktikkan penggunaan kompas geologi untuk melakukan pengukuran strike dan dip pada bidang kekar.

Setiap kelompok melakukan pengamatan terhadap arah penyebaran kekar, mencatat orientasi bidang batuan, serta mendokumentasikan kondisi singkapan sebagai bagian dari data lapangan. Data yang diperoleh nantinya akan diolah untuk menginterpretasikan arah tegasan atau gaya tektonik yang pernah bekerja di wilayah tersebut.

Melalui kegiatan ini mahasiswa memahami bahwa pengukuran struktur geologi bukan sekadar memperoleh angka, tetapi menjadi dasar dalam menganalisis sejarah deformasi batuan maupun kondisi geologi suatu daerah.

Menelusuri Jejak Aktivitas Tektonik pada Bidang Sesar

Perjalanan dilanjutkan menuju stasiun kedua yang berada di area lereng bukit. Pada lokasi ini mahasiswa mengamati bidang sesar yang memperlihatkan jejak deformasi akibat aktivitas tektonik serta kontak antara batuan beku dan batuan metamorf.

Dosen dan asisten praktikum menjelaskan proses terbentuknya sesar, jenis gaya yang menyebabkan deformasi batuan, serta bagaimana struktur tersebut dapat memengaruhi kondisi geologi suatu wilayah. Mahasiswa juga diajak mengidentifikasi karakteristik bidang sesar secara langsung berdasarkan kenampakan yang terlihat pada singkapan batuan.

Selain itu, keberadaan kontak antara batuan beku dan batuan metamorf memberikan gambaran mengenai proses geologi yang berlangsung dalam kurun waktu yang sangat panjang. Penjelasan tersebut membantu mahasiswa memahami keterkaitan antara proses magmatisme, metamorfisme, dan deformasi batuan sebagai bagian dari evolusi kerak bumi.

Mengenali Litologi Melalui Singkapan Batuan Sedimen

Stasiun ketiga berada di kawasan Wisata Negeri Atas Angin dengan objek pengamatan berupa singkapan batupasir tufan (tuff pasiran). Pada lokasi ini mahasiswa melakukan deskripsi megaskopis terhadap batuan dengan mengidentifikasi warna, ukuran butir, tekstur, struktur sedimen, tingkat pelapukan, hingga komposisi penyusunnya.

Kegiatan tersebut melatih mahasiswa dalam mengenali karakteristik batuan sedimen secara langsung sekaligus memahami proses pengendapan yang membentuk batuan tersebut.

Mengidentifikasi Karakteristik Batuan Beku

Masih berada di kawasan yang sama, mahasiswa kemudian berpindah menuju stasiun keempat untuk mengamati singkapan breksi andesit sebagai batuan beku.

Pada lokasi ini mahasiswa mempelajari karakteristik batuan beku, mulai dari tekstur, ukuran fragmen, komposisi mineral, hingga proses pembentukannya. Dosen dan asisten menjelaskan hubungan antara aktivitas vulkanisme dengan pembentukan batuan beku serta pentingnya identifikasi litologi dalam kegiatan eksplorasi dan evaluasi potensi sumber daya mineral.

Perbedaan karakteristik antara batuan sedimen dan batuan beku yang diamati secara langsung memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai klasifikasi batuan serta sejarah geologi kawasan tersebut.

Belajar Membaca Struktur Lipatan

Pengamatan ditutup di stasiun kelima yang berada pada bagian atas kawasan Wisata Negeri Atas Angin. Lokasi ini memperlihatkan struktur lipatan, tepatnya berada pada sayap sinklin, sehingga menjadi objek yang sangat baik untuk mempelajari deformasi batuan akibat gaya kompresi.

Mahasiswa melakukan pengukuran orientasi bidang lipatan menggunakan kompas geologi, mengidentifikasi unsur-unsur lipatan, serta mendiskusikan mekanisme pembentukannya bersama dosen dan asisten praktikum. Data hasil pengukuran kemudian menjadi bagian dari analisis yang akan dilakukan setelah kegiatan lapangan selesai.

Melalui pengamatan langsung terhadap struktur lipatan, mahasiswa memperoleh gambaran nyata mengenai bagaimana teori deformasi batuan yang dipelajari selama perkuliahan dapat ditemukan secara langsung di lapangan.

Diskusi Lapangan Menguatkan Pemahaman Mahasiswa

Setiap stasiun pengamatan tidak hanya menjadi tempat observasi, tetapi juga menjadi ruang diskusi antara mahasiswa, dosen, dan asisten praktikum. Setelah melakukan pengamatan, mahasiswa diminta menyampaikan hasil identifikasi, memberikan interpretasi awal terhadap struktur geologi yang ditemukan, serta berdiskusi mengenai sejarah geologi yang kemungkinan terjadi pada lokasi tersebut.

Melalui proses diskusi tersebut, mahasiswa belajar menghubungkan teori yang diperoleh di ruang kelas dengan data lapangan yang dikumpulkan secara mandiri. Pendekatan ini mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis, melakukan analisis berdasarkan bukti geologi, serta menyusun kesimpulan secara ilmiah.


Bekal Kompetensi bagi Calon Insinyur Pertambangan

Dalam kesempatan tersebut, Bapak Hendra Bahar, S.T., M.T. selaku dosen pendamping menyampaikan bahwa pembelajaran geologi akan lebih bermakna ketika mahasiswa terjun langsung ke lapangan.

“Geologi merupakan ilmu yang dipelajari langsung dari alam. Melalui fieldtrip ini mahasiswa tidak hanya memahami teori yang diperoleh di ruang kelas, tetapi juga mampu mengamati secara langsung bagaimana struktur geologi terbentuk serta menghubungkan setiap fenomena yang dijumpai dengan proses geologi yang terjadi. Pengalaman seperti ini menjadi bekal penting bagi mahasiswa Teknik Pertambangan ketika nantinya terjun ke dunia profesional.”

Senada dengan hal tersebut, salah satu Asisten Praktikum Geologi Struktur, Muhamad Faizal, menjelaskan bahwa kegiatan lapangan bertujuan membangun pemahaman mahasiswa secara menyeluruh terhadap konsep Geologi Struktur.

“Kami berharap mahasiswa tidak hanya mengetahui cara mengukur strike dan dip, tetapi juga memahami bagaimana data tersebut diolah untuk mengetahui arah tegasan, sejarah deformasi batuan, serta kondisi geologi suatu wilayah. Jadi, setiap pengukuran yang dilakukan memiliki dasar ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan.”

Antusiasme peserta juga terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Salah satu mahasiswa Semester 2, Renaldy Justen Layuk, mengungkapkan bahwa fieldtrip memberikan pengalaman belajar yang berbeda dibandingkan pembelajaran di ruang kelas.

“Melihat langsung struktur geologi di lapangan memberikan pengalaman yang sangat berkesan. Kami tidak hanya belajar mengenali sesar, kekar, lipatan, maupun berbagai jenis batuan, tetapi juga mempraktikkan cara melakukan pengukuran dan mendeskripsikan singkapan secara langsung. Kegiatan ini membuat materi Geologi Struktur menjadi lebih mudah dipahami karena kami melihat sendiri objek yang selama ini hanya dipelajari melalui buku dan penjelasan dosen.”


Komitmen ITATS Menghadirkan Pembelajaran Berbasis Lapangan

Fieldtrip Praktikum Geologi Struktur merupakan salah satu bentuk komitmen Program Studi Teknik Pertambangan ITATS dalam menghadirkan proses pembelajaran yang mengintegrasikan teori dengan praktik. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mengembangkan kemampuan observasi, pengukuran, dan analisis struktur geologi, tetapi juga memperoleh pengalaman bekerja dalam tim, melakukan pencatatan data lapangan secara sistematis, serta menginterpretasikan kondisi geologi berdasarkan bukti yang ditemukan di lapangan.

Kompetensi tersebut menjadi fondasi penting dalam menghadapi mata kuliah lanjutan, kegiatan penelitian, kerja praktik, hingga memasuki dunia industri pertambangan yang membutuhkan sumber daya manusia dengan kemampuan teknis dan analitis yang kuat.

Ke depan, kegiatan pembelajaran berbasis lapangan seperti ini diharapkan dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dengan lokasi pengamatan yang semakin beragam. Dengan demikian, mahasiswa Program Studi Teknik Pertambangan ITATS akan semakin siap menjadi lulusan yang kompeten, adaptif, dan mampu menjawab tantangan perkembangan industri pertambangan di masa depan.

Similar Posts