SURABAYA, 6 Juli 2026 — Budaya riset dan iklim akademik yang suportif kembali membuahkan hasil nyata bagi Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS). Arinto Eka Prasetyo Raharjo, mahasiswa Program Studi Teknik Elektro angkatan 2024, resmi terpilih sebagai peserta beVisioneers: The Mercedes-Benz Fellowship. Lolosnya Arinto ke program bertaraf internasional ini menegaskan bahwa ekosistem inovasi di ITATS beroperasi secara efektif dalam mematangkan ide-ide mahasiswa hingga siap diadu di level global.
Kampus Teknik yang Menghidupkan Gagasan
Di ITATS, inovasi tidak hanya berhenti di lembar tugas akhir. Kampus secara proaktif membangun lingkungan yang mendorong mahasiswa berani mengeksekusi ide penyelesaian masalah riil. Prestasi Arinto membuktikan bahwa perpaduan antara kurikulum berbasis proyek, kebebasan berekspresi di ruang akademik, serta ketersediaan fasilitas uji coba mampu mencetak generasi yang peka terhadap krisis lingkungan hidup.

Arinto Eka Prasetyo Raharjo, mahasiswa Elektro ITATS, lolos program fellowship lingkungan global bergengsi beVisioneers Mercedes-Benz 2026.
Arinto mengamankan satu kursi di beVisioneers bukan karena kebetulan. Ia berhasil meyakinkan panelis internasional melalui gagasan proyek ramah lingkungannya, sebuah syarat mutlak yang menuntut pemahaman teknis sekaligus visi keberlanjutan jangka panjang. Kemampuannya memformulasikan solusi inovatif ini mencerminkan tingginya standar kompetensi yang ditanamkan sejak semester awal perkuliahan.
Skala Global beVisioneers Mercedes-Benz Fellowship
Program bergengsi yang didanai penuh oleh Mercedes-Benz dan dijalankan oleh The DO School Fellowships ini mencari anak-anak muda usia 16 hingga 28 tahun yang berani mengambil tindakan. Tanpa memungut biaya pendaftaran, program multi-tahun ini dirancang murni untuk mewujudkan konsep menjadi aksi. Para peserta terpilih tidak diwajibkan memiliki rekam jejak wirausaha, melainkan diuji dari seberapa kuat komitmen mereka merawat bumi.

Memasuki tahun pertama, Arinto akan menjalani fase inovasi dasar berformat hybrid selama 12 bulan. Ia perlu mendedikasikan waktu minimal 24 jam setiap bulannya untuk melahap modul daring, berkolaborasi di Local Hubs, serta menghadiri Regional dan Global Summit yang seluruh biaya perjalanannya ditanggung penyelenggara. Pada tahun kedua dan ketiga, peserta bebas memilih Entrepreneurial Track untuk mengekspansi skala bisnis, atau Green Career Track guna mematangkan karir profesional di sektor ekonomi hijau.
Injeksi Dana Puluhan Ribu Euro dan Kebebasan Intelektual
Sebagai bagian dari komunitas global, Arinto berhak mengakses pendanaan proyek hingga €20.000, sebuah suntikan modal yang sangat substansial untuk membangun prototipe atau riset terapan. Selain sokongan finansial, ia mendapat privilese berupa bimbingan personal dari venture coach dan mentor ahli di tujuh area prioritas, mulai dari transisi energi bersih, konservasi air, hingga desain infrastruktur berkelanjutan.
Satu daya tarik utama yang jarang diberikan oleh inkubator sejenis adalah kepastian hukum atas karya intelektual. Seluruh hak cipta dan paten dari proyek yang dikembangkan akan mutlak menjadi milik Arinto sepenuhnya. Penyelenggara bahkan menyiapkan skema bantuan dana tambahan untuk menunjang kebutuhan operasional mendesak seperti pembelian laptop atau pemasangan internet bagi peserta yang membutuhkan.
Kisah Arinto membuktikan bahwa gagasan besar membutuhkan lingkungan yang tepat untuk tumbuh dan diakui dunia. Bagi Anda yang memiliki ketertarikan di bidang teknologi dan memendam ide untuk membawa perubahan positif, ITATS membuka pintu pendaftaran bagi calon mahasiswa baru yang ingin mengeksplorasi potensi, mengasah keterampilan teknis, dan merebut peluang beasiswa di kancah internasional.
Jangan biarkan ide Anda sekadar menjadi angan; wujudkan visi Anda dan mulai perjalanan akademik yang berdampak nyata dengan bergabung bersama kami sekarang juga melalui pmb.itats.ac.id.