KULIAH LAPANGAN 3 TEKNIK PERTAMBANGAN ITATS – Belajar dari Lapangan, Memahami Bumi Lebih Dalam
Pembelajaran di dunia Teknik Pertambangan tidak hanya dilakukan di dalam ruang kelas. Pemahaman terhadap kondisi geologi, batuan, serta karakteristik suatu wilayah membutuhkan pengalaman langsung di lapangan. Melalui kegiatan Kuliah Lapangan 3 (KL-3), mahasiswa Program Studi Teknik Pertambangan Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS) mendapatkan kesempatan untuk mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari secara langsung di lingkungan geologi alami.

Kegiatan Kuliah Lapangan 3 dilaksanakan di Goa Kalilingseng, yang terletak di Dusun Ngruno, Desa Karangsari, Kapanewon Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lingkungan goa menjadi lokasi pembelajaran yang menarik karena mahasiswa dapat melakukan berbagai pengamatan dan pengukuran terhadap kondisi batuan serta struktur geologi secara langsung.
Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa melakukan beberapa aktivitas lapangan, mulai dari mengukur jarak kekar, mengukur kekerasan batuan menggunakan Schmidt Hammer, mengukur strike dan dip, melakukan pengukuran terowongan, hingga mengambil sampel batuan. Setiap kegiatan memiliki fungsi penting dalam memahami karakteristik massa batuan dan kondisi geologi suatu area.

Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah pengukuran jarak antar kekar pada batuan. Kekar merupakan rekahan alami pada batuan yang terbentuk akibat proses geologi dan umumnya tidak mengalami pergeseran yang signifikan. Pengukuran jarak kekar dilakukan untuk mengetahui tingkat intensitas rekahan pada suatu massa batuan. Semakin rapat jarak antar kekar, maka massa batuan cenderung memiliki lebih banyak bidang diskontinuitas. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat memahami bahwa batuan tidak selalu bersifat homogen. Keberadaan kekar dapat memengaruhi perilaku dan kekuatan suatu massa batuan secara keseluruhan.
Karena kegiatan dilakukan di lingkungan goa, mahasiswa juga melakukan pengukuran terowongan. Pengukuran dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai dimensi dan kondisi bukaan bawah tanah. Dalam dunia pertambangan, pemahaman terhadap geometri bukaan dan kondisi batuan di sekitarnya menjadi salah satu aspek penting dalam kegiatan penambangan bawah tanah.
Struktur geologi menjadi salah satu aspek penting yang dipelajari dalam kegiatan Kuliah Lapangan 3. Mahasiswa melakukan pengukuran strike dan dip pada bidang-bidang geologi yang ditemukan di lokasi. Strike merupakan arah horizontal dari suatu bidang geologi, sedangkan dip menunjukkan arah dan besar kemiringan bidang tersebut.
Data strike dan dip sangat penting untuk memahami orientasi struktur batuan di suatu wilayah. Informasi ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi orientasi lapisan batuan, memahami arah dan kemiringan struktur geologi, membantu interpretasi kondisi geologi suatu daerah, dan mendukung analisis struktur batuan.




Kegiatan berikutnya adalah melakukan pengukuran nilai kekerasan batuan menggunakan Schmidt Hammer. Alat ini digunakan untuk memperoleh nilai pantul (rebound value) dari permukaan batuan setelah diberikan energi tumbukan. Nilai pantul yang diperoleh dapat digunakan sebagai salah satu indikator untuk memperkirakan tingkat kekerasan atau kekuatan permukaan batuan. Selain melakukan pengukuran langsung, mahasiswa juga melakukan pengambilan sampel batuan dari lokasi kegiatan. Pengambilan sampel batuan memiliki fungsi penting untuk memperoleh data mengenai karakteristik material yang ditemukan di lapangan.
Kuliah Lapangan 3 di Goa Kalilingseng bukan hanya menjadi kegiatan pengukuran dan pengambilan data. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi proses pembelajaran untuk memahami bagaimana teori yang dipelajari di kelas diterapkan pada kondisi nyata. Mahasiswa belajar bahwa setiap rekahan, kemiringan batuan, tingkat kekerasan, hingga bentuk suatu bukaan memiliki informasi yang dapat digunakan untuk memahami kondisi geologi secara lebih menyeluruh.
Melalui pengukuran jarak kekar, pengujian kekerasan batuan menggunakan Schmidt Hammer, pengukuran strike dan dip, pengukuran terowongan, serta pengambilan sampel batuan, mahasiswa Teknik Pertambangan Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya memperoleh pengalaman langsung dalam melakukan observasi, pengukuran, pengumpulan data, dan interpretasi kondisi geologi.
Pengalaman seperti inilah yang menjadi bagian penting dalam proses pembentukan calon engineer. Tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu melihat, mengamati, mengukur, menganalisis, dan mengambil kesimpulan berdasarkan kondisi nyata di lapangan.


